WACANA KRITIS FAIRCLOUGH DALAM TEKS IKLAN MANA TAU: INDIAN ROYAL COFEE



Khikmah Susanti(1*), Puji Anto(2), Atiek Nur Hidayati(3),

(1) Universitas Indraprasta PGRI
(2) Universitas Indraprasta PGRI
(3) Universitas Indraprasta PGRI
(*) Corresponding Author

Abstract


Abstract: Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap idiologi dan tujuan dari pengiklan. Motode analisis yang digunakan dalam analisis ini yaitu menggunakan model analisis wacana kritis Norman Fairclough yang melihat teks (iklan) berdasarkan tiga dimensi, yaitu teks (teks), praktik teks (discourse practice) dan praktik sosiokultural (sociocultural practice). Hasil penelitian berdasarkan analisis kebahasaan pada iklan banyak menggunakan identitas-identitas tertentu, seperti identitas milenials dan India. Milenials diwakili dengan kata komiters, gue, letsgo, sedangkan India diwakili dengan kata “aca-aca” dan “tekstur” untuk menggambarkan makanan India yang lain daripada yang lain. Eufimisme juga mucul ketika iklan menggunakan kata “kita” yang menunjukkan kesejajaran antara pengiklan dan pembaca. Tidak menunjukkan otoritasnya sebagai pengiklan. Berdasarkan analisis praktik teks dari sisi produksi dan konsumsi, pengiklan tahu betul kebutuhan para penumpang KRL, khususnya Masyarakat Bogor dengan kebiasaan cuaca dingin sehingga disuguhkan makanan yang pedas untuk menghangat suhu tubuh. Sasaran pengiklan pun sangat jelas yaitu kaum milenials. Pengiklan menyampaikan pesan dengan sangat sederhana dan informal serta diperkuat dengan penggunaan aksesoris ciri khas negara asal makanan tersebut. Berdasarkan analisis praktik sosiokultural, pengiklan sudah mengidentifikasi pola hidup masyarakat Indonesia saat ini, yaitu konsumtif dan modernitas sehingga disuguhkan pilihan makanan yang menunjukkan kelas tertentu. Faktor kebahagiaan dalam menjalani hidup juga ditawarkan dalam iklan. Menghibur diri tidak hanya sekadar berwisata di tempat-tempat yang indah, tetapi dapat juga dilakukan dengan mencoba berbagai macam jenis makanan dari berbagai negara. Pengiklan mengarah pada sebuah institusi tertentu, yaitu kalangan kelas menengah, tetapi memunculkan kesan kelas atas. Gaya hidup konsumtif menjadi dasar pengiklan untuk menyuguhkan jenis makanan yang lain dari biasanya.

Keywords: Wacana Kritis Fairclough, iklan.


Full Text:

PDF

References


Eriyanto. (2001). Analisis wacana pengantar teks media. Yokyakarta: LkiS Yogyakart.

Fairclough, N. (1989). Language and power; Relasi bahasa, kekuasaan, dan ideologi. Terjemahan Indah Rohmani-Komunitas Ambarawa. (2003). Malang: Boyan Publishing.

Jorgensen, M. W. & Phillips, L. J. (Tanpa Tahun). Analisis wacana teori dan metode. Terjemahan Imam Suyitno dkk. (2010). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2019). https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Dingin

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2019). https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Lapar

MacroAd.com. (2019). Mana tau: Indian Royal Café. https://macroAd.com/krl/




DOI: https://doi.org/10.30998/jh.v3i2.223

Article Metrics

Abstract Views : 1754 | PDF Views : 907

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Publisher:
Universitas Indraprasta PGRI

Address: Kampus B Universitas Indraprasta PGRI Jl. Raya Tengah, Kel. Gedong, Pasar Rebo,, Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta 
Phone: +62 (021) 87797409 - 87781300 | Close in sunday and public holidays in Indonesia
Work Hours: 09.00 AM – 08.00 PM
Best hours to visit: From 9 am to 11 am or after 3 pm. The busiest times are between 11 am and 3 pm.

Hortatori is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.